Kamis, 05 Januari 2017

Awas, Hindari Waswas!



Awas, Hindari Waswas!
...
Waswas adalah manipulasi setan yang membuat suasana hati seorang ‘âbid keruh dan suram. Secara psikologis, ‘âbid yang menderita penyakit waswas mengalami tekanan mental sehingga terkadang perilakunya nampak seperti orang abnormal, bahkan bisa lebih parah lagi. Justru sesuatu yang sedang atau telah dia lakukan bisa jadi tidak dia rasakan seperti fenomena penderita waswas yang melafadzkan niat, berwudhu, dan melakukan takbiratul-ihrâm berkali-kali. Menurut Imam Abu Hamid al-Ghazali, penyakit waswas muncul disebabkan oleh dua hal. Pertama, minimnya pemahaman terhadap syariat. Kedua, adanya gangguang pada akal atau pikiran. Kedua faktor itu menjadi aib yang besar dalam diri si penderita waswas. Untuk mencegah penyakit waswas ini berkelanjutan, berikut beberapa resep dari para ulama yang berhasil terkumpulkan dari berbagai sumber.

Mohon perlindungan Allah
Allah berfirman, yang artinya: “Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Fushshulat, 36)
Utsman bin Abil 'Ash pernah mengadu kepada Rasulullah tentang setan yang menggodanya ketika shalat. Rasulullah pun bersabda, "Itulah setan yang bernama Khanzab. Jika Engkau merasakannya, mohonlah perlindungan Allah dari padanya dan meniuplah ke arah kirimu tiga kali. Kemudian Ustman berkata, "Aku lalu mengamalkannya dan Allah menghilangkannya dariku." (HR. Muslim)

Istiqamah Iman
Allah berfiman, yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu." (QS. Fushshilat, 30)

Perbanyak Istighfar
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda, “Barang siapa memperbanyak membaca istighfar, maka Allah akan menjadikan dari setiap kesulitan suatu jalan keluar dan dari setiap kesusahan suatu kebahagiaan.” (HR. Abu Daud)

Berbahagia dengan Waswas
Suatu hari Syekh Ahmad bin Abil Hawary mengadu kepada Syekh Abu Sulaiman ad-Darani tentang waswas. Syekh Abu sulaiman pun berkata, "Aku melihat waswas telah membuatmu bersedih, wahai Abal Hasan (Ahmad bin Abil Hawary)! Jika Engkau ingin menghilangkan waswas darimu, maka berbahagialah dengan adanya waswas itu. Karena jika Engkau merasa bahagia dengan adanya waswas maka dia akan pergi darimu. Sesungguhnya tidak ada hal yang lebih dibenci waswas kecuali kebahagiaan seorang mukmin. Sebaliknya, jika Engkau bersedih karena waswas maka dia malah akan bertambah."

Membaca Doa Penangkal
Karena seorang penderita waswas selalu dilanda kesusahan maka dia dianjurkan membaca doa penghilang gundah dan susah berikut, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab “Al-Adzkâr lin-Nawawî”, 104.

أللَّهُمَّ أناَ عَبْدُكَ إِبْنُ عَبْدِكَ إِبْنُ أَمَتِكَ فِيْ قَبْضَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِي حُكْمِكَ، عَدْلٌ فِيْ قِضَائِكَ. أسْئَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ أنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ أوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أوْ اسْتَأثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَك، أنْ تَجْعَلَ القُرْآنَ نُوْرَ صَدْرِيْ وَرَبِيْعَ قَلْبِيْ وَجَلَاءَ حُزْنِيْ وَذَهَابَ هَمِّي.

“Wahai Tuhanku, Aku adalah hamba-Mu, putra hamba-Mu, putra hamba wanita-Mu dalam gemgaman-Mu, ubun-ubun-Ku di tangan-Mu, berlalu dalam hukum-Mu, adil dalam qadha’-Mu. Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama-Mu yang Engkau menyebut diri-Mu dengan nama itu atau Engkau turunkan nama itu dalam kitab suci-Mu atau Engkau mengajarkannya pada seseorang dari makhluk-Mu atau Engkau gunakan nama itu untuk menguasai alam ghaib, agar Engkau jadikan al-Quran sebagai cahaya hatiku, musim semi hatiku, penghilang kesusahanku dan kegundahanku.”
Selain doa di atas, Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili mengajarkan satu doa juga kepada para muridnya untuk menangkal waswas. Beliau berkata, “Barang siapa merasakan waswas (khususnya saat takbiratul-ihram) hendaklah ia meletakkan tangan kanannya di dada.